Kamis, 28 Sya'ban 1438 H

Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al BanjarySitus Resmi Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjary

Guru Sekolah Pinggiran Bukan Robot yang Harus Dikucilkan

Guru Sekolah Pinggiran Bukan Robot yang Harus Dikucilkan
05 September 2007
Ditulis oleh : Rely Rizaldy*

KEMUNCULAN makhluk baru ini membuat dunia pendidikan menjadi ribut, bingung atau bahkan sebaliknya tak peduli, karena mereka yang sudah lama mengajar dan terlanjur antipati terhadap perubahan, berkata "itu sih biasa!'. Nanti juga diganti lagi hewannya, tunggu aja menterinya diganti. Karena sekarang ini jaman serba mudah (gampang), hanya tinggal dicloning saja, jadi dech! Bukankah sekarang jaman serba instan?". Seinstan ucapan yang dilontarkan para pejabat yang katanya peduli tentang pendidikan..

Munculnya makhluk ini bagi birokrat merupakan inspirasi dalam membuat kebijakan berorientasi proyek. Rencanakan bagi mereka yang sekolahnya kekurangan siswa tentunya kompetensinya diharapkan rendah, lantas akan sosialisasikan lagi ke guru-guru dan begitu seterusnya. Ujung-ujungnya guru yang akan menjadi kambing hitam bila tidak memenuhi target yang ditetapkan.

Guru merupakan sasaran anak panah yang empuk untuk dijadikan kambing hitam (Guru...! kasihan deh lho). Lagi-lagi sebagai bukti nyata yaitu tidak berhaknya guru menentukan kelulusan anak didiknya yang telah digodok selama 3 tahun. Ini berarti birokrat tidak punya keinginan untuk memanusiawikan guru.

Dengan peraturan seperti itu, mestinya masyarakat temasuk guru marah kepada birokrat, ini merupakan pelecehan terhadap kemampuan profesional sekolah. Ternyata,Guru hanya bisa membisu dan terpaku diam, karena menyadari kemampuannya sangat terbatas, karena merasa tak memiliki kompetensi yang sebenarnya. Ini terjadi, sebab guru hanya bisanya begitu. Guru hanya diajarkan untuk menunggu datangnya perubahan dan hanya bermimpi untuk menjadi setara dengan guru guru negara maju. Guru (di negeri ini) sudah terbiasa disuruh untuk menjadi abdi yang taat aturan. Serta taat untuk selalu menanggung kesalahan birokrat. Sebobrok apapun peraturan namun tuntutan hasil belajar siswa tetaplah guru menjadi biangnya yang dipersalahkan di negeri ini bukan komponen lain.

Berilah Guru Pilihan

Seharus ada kejujuran (suara hati) karena birokrat telah mengetahui, bahwa dengan jumlah penduduk desa tertinggal yang sangat sedikit dan kegagalan dalam dunia pendidikan akan seperti sekarang ini sepenuhnya bukan kesalahan guru saja, tetapi semua komponen bangsa ini yaitu, guru, orang tua, siswa, masyarakat, lembaga pendidikan, pemerintah. Tapi yang berdosa lebih besar adalah birokrat, karena merekalah yang telah merencanakan, melaksanakan, mengobservasi dan mengevaluasi layak tidaknya sebuah sekolah baru untuk dibangun dan mampu berkembang 10 tahun ke depan.

Kasihan engkau guru sekolah yang ada di pinggiran, mengapa nasibmu bisa begitu memilukan dan selalu terpasung dalam lingkaran ketidakberesan birokrat. Benarkah engkau tak mampu seperti tudingan orang. Bahwa engkau tak becus menjadi seorang guru, tak layak untuk mengajar dan menjadi sekolah penyelenggara hajatan nasional bahkan untuk mendidik anak bangsa karena kekurang jumlah siswa.

Bila saja peraturan tadi tidak juga berubah di tahun mendatang maka hendaknya kebutuhan guru bagi sekolah pinggiran tolong diperhatikan, terutama kesamaan dalam memperoleh dan mendapatkan peluang karier. Kebutuhan ini menurut penulis adalah: Pertama beri ruang dan fasilitasi guru untuk bertemu dalam forum musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) tingkat kabupaten. Bila seringnya guru merefleksikan pengalaman mereka saat mengajar di depan guru-guru seprofesi akan menjadikan guru lebih siap untuk memperoses sebuah pengalaman dalam bentuk lembar kerja. Lembar kerja yang dituntut sekarang ini yaitu kemampuan guru membuat penelitian tindakan kelas. Harapannya dengan perencanaan yang terlatih, guru akan lebih siap memecahkan masalah pembelajaran di dalam kelas.

Bagaimana guru mampu membantu memecahkan masalah siswa, memecahkan masalahnya sendiri saja saat ini dengan adanya kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) guru begitu bingungnya. Kurikulum selalu saja sarat dengan isi, beban tugas yang berat, menuntut pekerjaan ekstra dari guru, tapi guru sendiri tak pernah diberi pilihan untuk merembukkan masalahnya bersama-sama.

Kedua adalah beri dana yang berimbang atau persamaan anggaran yang bersifat proyek seperti school grant, block grant. Bukan berarti dana yang didapat harus sama jumlahnya, tapi hendaknya birokrat memberikan dana-dana tadi ke semua pihak penyelenggara pendidikan tanpa diskriminasi dengan tujuan untuk membangkitkan kembali kreativitas dan inovasi sekolah. Inovasi dan kreativitas ini bisa berupa pembuatan buletin sekolah, majalah dinding sekolah atau pelatihan berpikir kritis bagi siswa untuk meneliti dalam kegiatan Karya Ilmiah Remaja (KIR), termasuk browsing di internet walaupun sekolahnya berada di pinggiran.

Bila dana yang dikucurkan tidak memilah milah kedudukan suatu sekolah ada harapan bagi sekolah di pinggiran mampu bersaing dengan sekolah perkotaan. Sekolah di kota sudah begitu banyak memiliki dana, dan terus ditambah dengan bermacam dana dengan nama proyek aneh, sementara sekolah pinggiran dengan keterbatasan dana juga dituntut maksimal. Ironisnya sekolah dengan nama sekolah standar nasional (SSN), sekolah standar Internasional (SSI) tidak mampu membuat perubahan yang mengarah kepada kekreatifan siswa maupun guru, terlebih lagi memberi contoh positif kepada sekolah lain.

Sekolah dengan nama SSN atau SSI masih seperti yang dulu, tak mencerminkan sekolah standar nasional atau intemasional. Hanya memiliki dana, tanpa tahu dana itu untuk apa, karena tak pernah optimalnya dana itu dimanfaatkan oleh sekolah. Ini penting penulis ingatkan, karena menurut penulis SSN dan SSI atau sekolah favorit harus ditunjukkan dengan bukti, bahwa sekolah seperti ini mesti memiliki siswa yang kreatif dengan tingkat pemikiran kritis, guru yang produktif. Siswa yang mampu memenuhi ketentuan kelulusan standar, yaitu dengan nilai minimal ketuntasan belajar 75 bukan hanya berpatok dengan angka 5.01 (masa sama dengan sekolah pinggiran yang minim fasilitas).

Sudah saatnya birokrat terutama birokrta pemda bisa memilah guru yang mana yang produktif ataupun tidak. Guru yang produktif akan menghasilkan karya-karya tulis yang memberikan ilham kepada guru lain untuk mengikuti menjadi guru yang profesional. Tidaklah hanya sebagai guru yang bisanya mempergunakan buku karya orang lain sebagai bahan acuan mengajar. Bila sudah begitu, sungguh beruntung nasib guru itu kebetulan ditempatkan di sekolah berstandar nasional, internasional atau sekolah favorit dengan dana yang begitu besar hanya untuk urusan perut dan penampilan serta kebanggaan semu saja. Hasil dari mereka yang telah memperoleh dana begitu beragam, mana? (Kami tunggu !)

Ketiga beri pembinaan buat guru dalam hal tulis menulis, birokrat khususnya pemda jangan hanya menjadikan guru selalu menjadi konsumen dunia tulis seiring pelaksanaan good goverment. Bantulah guru mengembangkan profesinya demi kesinambungan ilmu yang telah dipelajari dan diajarkanya. Harapannya guru akan mampu mengaktualisasi pikiran dan keberadaan ilmu yang dimiliki menjadi bahan ajar untuk pembelajaran di ruang kelas.

Sangat disayangkan kalau pemda tidak peduli terhadap begitu banyak sekarang ini guru dengan pangkat golongan IV/a yang tak diberdayakan kemampuannya. Bukankah kemampuan olah pikir harus menjadi prioritas utama dari suatu kebijakan? Tentu negara/daerah akan bertambah makmur bila warga negaranya memiliki pemikiran-pemikiran kritis yang dihasilkan oleh guru guru kritis.

Kapan lagi kita bisa membanggakan guru bila memiliki guru-guru yang kritis dan kreatif, karena bila kekreativan muncul akan berdampak positif bagi kemajuan bangsa. Berapapun biaya yang merupakan kebutuhan (primer atau sekunder) guru, guru tak akan lagi terlalu bergantung dengan gaji. Dengan kreativitas, guru akan menjadi seorang yang produktif. Tentu orang yang produktif akan mampu memberdayakan lingkungan sehingga akan mendapatkan imbalan yang pantas.

Harapan penulis, kreativitas ini akan mencerminkan jenis karakter suatu bangsa/daerah (bangsa Indonesia), dimana dengan memberi kesempatan guru menunjukkan tingkah laku dan moralnya saat mereka(guru) merasa sangat aktif dan benar-benar menikmati hidup. Pada saat itu ada sesuatu dalam hati kita yang mengatakan, "Inilah saya yang sebenarnya. Saya bangga menjadi guru walaupun sekolah berada di pinggiran".

Untuk menutup tulisan ini penulis jadi teringat akan pesan tetua bahwa jadikan hari ini lebih baik dari hari kemaren dan hari esok lebih baik dari hari ini sehingga apa yang semestinya menjadi tanggungjawab kita terhadap perubahan dan turut mewarnai perubahan haruslah kita lakukan***

*) Staf Pengajar SMPN 2 Tapin Tengah