SELAMA ini rasanya kita hanya menyaksikan aksi kejahatan dalam bentuk penculikan (anak?) melalui layar kaca saja. Atau membaca berita penculikan itu di media cetak, yang maa itupun jauh dari kita, terjadi di pulau jawa atau kota-kota besarnya saja. Sehinga begitu mendengar dan membaca berita tentag terjadinya penculikan anak yang menimpa Regita (10 tahun) dari sekolahnya di kota kita sendiri, Banjarmasin pada hari selasa, 22 Agustus 2007 tadi, membuat kita kaget. Ternyata dalam kejahatan, kota kita tidak tertinggal jauh dari kota-kota besar di pulau jawa.
Belum tuntas berita di media cetak dan elektronik tentang penculikan yang menimpa anak pegusaha batubara da sekaligus ketua HIPMI Jakarta, bernama Raisya Ali (5 tahun). Pada berselag waktu tidak lama, di kota kita tercinta Banjarmasin ini berlangsung aksi yang sama denga modus operandi yag berbeda. Namun ternyata pelakunya sama dan banyak menimpa anak-anak dan pelajar di kota ini.
Kasus Raisyah sempat menggugah perhatian dari berbagai pihak hingga Bapak Presiden SBY dan Bapak Wakil Presiden, HM Yusuf Kalla. Alhamdulillah keesokan harinya setelah sembilan hari, Raisyah berhasil diselamatkan dan dibebaskan dari tiga komplotan penculik tersebut.
Kasus yang menimpa Regita yang terjadi di kota kita Banjarmasin, sungguh sangat perlu kita simak dan tanggapi dengan serius. Ternyata kejahatan dengan berbagai modus telah merambah ke kota kita ini. Tidak tanggung-tanggung, pelakunya dapat di bilang masih sangat muda, yaitu Dewi (19 tahun) dan temannya Nita (15 tahun). Berjenis kelamin perempuan pula. Sungguh jadi membuat kita terperangah.
Kejadian yang menimpa Regita ini telah memberi pelajaran berharga kepada HUT Kota Banjarmasin ke 481 tahun ini pada 24 September. Betapa kota banjarmasin tidak bisa dianggap sebagai kota kecil lagi, karena kasus-kasus semacam penculikan ini, yang biasanya menimpa kota-kota besar sudah masuk dan merambah kota ini sekarang, saat ini.
Rasa aman kita hilang?
Melalui kasus ini sungguh perlu kita pertanyakan, sudah tidak amankah kota kita ini? Kota Banjarmasin yang jauh dari predikat kota metropolitan semacam Jakarta ini ternyaata keamananya juga sudah menjadi hal yang perlu dipertayakan? Akankah sebagai orangtua kita tidak lagi dapat mempercayai keamanan anak-anaknya dalam beraktivitas?
Dalam kasus Regita yang terjadi di Banjarmasin dan Raisya yang terjadi di kota metropolitan Jakarta, ternyata mereka sama-sama pelajar yang diintai melalui sekolah. Regita dijemput pada jam pelajaran sekolah masih berlangsung, sementara Raisya saat pulang sekolah dengan diboncengi pengasuhnya ia direbut dan diculik dengan paksa.
Ternyata kemajuan yang dicapai manusia dalam peradaban jama harus pula menjadi peringatan sekaligus tantangan.pelajaran ini menjadi pengalaman bahwa kita harus bersiap pula menyambut kemajuan kejahatan. Dan di Banjarmasin, kejahatan itu dilakukan oleh seorang perempuan belia. Walaupun belum menunjukkan keprofesionalannya dalam beroperasi, namun ini menjadi bertanda bahwa bahaya baru telah mengintai damengancam kita.
Perpisahan orangtua dengan anak untuk bersekolah pun ternyata kini sudah menimbulkan kegelisahan dalam masyarakat.mengapa? karena bahaya baru, kejahatan penculikan yang menimpa anak-aak yang sedang dititipkan dalam pengawasan guru/sekolah seperti yang menimpa Regita maupun Reisya tadi.
Dua pristiwa ini bisa saja memicu timbulnya kegelisahan para orangtua. Tidak amankah sekolah kita? Tidak aman lagikah perjalana pergi atau pulang anak kita dari/ke rumah menuju ke/dari sekolah? Atau, ada apa dengan masyarakat kita? Karena walaupun petugas keamanan yang berseragam ataupun hanya berpakaian sipil,ada dimana-mana di sekitar kita. Tetapi kemajuan peradaban telah mampu membuat kamuflase kejahatan dalam selimut yang indah dan rapi. Para orangtua dan pihak sekolah menjadi harus ekstra hati-hati. Bahwa anak-anak mereka sudah mulai ?dilirik? para kriminal kota besar dan masyarakat kota modern yang bisa datang dari mana saja.
Siapa sangka orang yang terlihat terpelajar, keren, rapi, cantik atau parlente itu adalah pejahat? Sehingga rasaya perlu diciptakan lagi alat berteknologi tinggi yang mampu membantu pada orangtua atau anggota masyarakat bahka para pihak keamanan untuk mendeteksi setiap gelagat orang yang terlihat mencurigakan atau benar-benar berniat jahat akan bereaksi di sekitar kita. Bila perlu telepon seluler sudah bisa dilengkapi dengan alat deteksi canggih semacam ini agar keamanan setiap diri dan anggota keluarga dapat lebih terjamin dan jelas mereka bisa merasa aman dalam beraktivitas. Untuk itu tugas para teknokaratlah yang megambil peran ini. Kita tunggu.
Pelaku bisa siapapun
Kemajuan teknologi dan kemudahan mengakses berbagai informasi, telah pula mnimbulkan dampak negative terhadap kejahatan dan kriminalitas. Pelakunya bukan lagi orang yang dianggap kuat, perkasa, dan harus berbadan kekar. Ternyata kasus di Banjarmasin kejahatan penculika ini dilakukan oleh seorang perempuan yag sering di konotasika perempuan sebagai mahluk yang lemah lembut, perangainya halus, selalu minta perlindungan da tidak bisa mandiri. Namun denga terjadinya kejahatan penculikan yang menimpa Regita ini, semua anggapan itu sirna. Bahkan bukan saja si pelaku berjenis kelamin perempuan, tetapi pelaku juga masih berusia sangat belia sekali. Yang menurut perkiraan umum biasanya masih pendek pemikiranya dan pengalaman.
Tetapi apa lacur, semua hal itu tidak berlaku lagi. Akankah kemajuan peradaban ini telah merubah semua itu? Akankah kemajuan jaman ini juga telah menjadikan perempuan perkasa? Atau paling tidak, jenis kelami tidak bisa dijadikan Patoka untuk mengukur suatu kejahatan yang pada umumnya keras dan kasar? Sehingga pelaku kejahatan dalam peradaban modern ini pun tidak pandang apa jenis kelaminya. Lalu akankah kita yang hidup di era modernisasi dan globalisasi serba canggih ini, jadi kehilangan kepercayaan akan rasa aman kita dalam melepas anak sekolah atau dalam beraktivitas?
Untuk itu kita semua harus memperangi dan memberantas segala bentuk kejahatan yang ada di sekitar kita. Dalam kasus penculikan anak, sangat diperlukan kebersamaan semua pihak untuk menjadikan setiap sudut kota atau tempat, selalu aman dalam beraktivitas. Jauh dari kecurigaan, ketakutan dan kegelisahan terhadap ancaman rasa aman kita.
Apapun alasanaya, penculikan adalah bahaya baru dalam masyarakat kita sekarang ini. Sehingga harus disikapisebagai kejahatan yang harus diperangi bersama-sama, selain memang meningkatkan pengamanan dan kewaspadaan kita tidak dengan memberi kesempatan dan menimbulkan motivasi orang untuk berbuat jahat. Misalnya tidak memancing kejahatan dengan memperlihatkan (pakaian) perhiasan emas berlian yag mencolok. Pakaian yang berlebihan. Perlengkapan penampilan semacam telepon seluler dan sebagainya yang tidak pada tempatnya atau sepadan dengan si pemakai. Contoh, anak SD yang memakai telepon berfasilitas mewah/canggih; HP 3G, misalnya, dsb.
Kembali belajar berempati
Di balik cerita Raisya yag mendapat perhatian besar sampai Presiden merasa sangat perlu secara khusus menggelar jumpa pers untuk Raisya Ali ini. Ternyata melalui media elektronik di berbagai belahan kota metropolitan Jakarta
Beruntun kejahatan penculikan menimpa anak-anak yang lain. Bahkan buka saja menimpa anak, penculikan juga menimpa seorang pegusaha di Jakarta bernama Zainal Ganda Saputra. Dimana penculikan ini melibatka warga asing. Namun, baik penculikan anak apalagi pengusaha, tak ada yang seheboh yang terjadi pada Raisya Ali. Semua biasa dan berlalu begitu saja. Kecuali pihak keluarga dan kepolisian yang sibuk dibuatnya.
Dari kasus-kasus peculikan di Jakarta yang kejadiannya hampir bersamaan saja tidak semua mendapat perhatian?kecuali kasus Raisya?dari sini kita dapat mengambil pelajaran, bahwa hendaknya perhatian yang di berikan pihak pemerintah melalui Presiden atau pejabat lainya seperti Wakil Presiden, dan lainya terhadap kasus penculikan ini tidak saja untuk orang-orang tertentu seperti Raisya Ali ini. Yang karena kesdudukan orangtuanya. Tetapi perhatian yang sama harus diberikan pemerintah atau pejabat terkait kepada siapa saja, baik kaya maupau miskin. Baik anak pejabat, anak pengusaha, ataupun orang biasa sampai anak tukang becak. Tanpa pandang bulu. Kita harap demikian adanya.
Mengingat mereka (korban dan keluarganya) yang tengah menjadi korba penculikan, atau korban kejahatan lainnya, siapapun dia pasti tengah mengalami keguncangan, kegundahan yang tiada taranya. Mereka ini berhak medapat perhatian yang sama seperti halnya Raisya Ali ini. Semoga perhatian ini tidak sekedar sampai pada kasua Raisya Ali saja. Untuk itu kita berharap pemerintah atau penguasa dapat memberikan perhatian yang sama kepada siapapun yang menjadi korban kejahatan. Baik karena perampokan, penculikan, maupun tindak kekerasan lainya, sampai pembunuhan. Inilah salah satu bentuk empati yang sebenarnya sudah mulai luntur atau hilang (?) di tengah-tengah kehidupan modern kita sehari-hari.
Pada akhirnya, dalam era apapun, tidak juga dalam era global seperti sekarang ini, ternyata secara kemanusiaan kita semua masih tetap membutuhkan yang namanya perhatian, simpati atau empati. Di tengah-tengah gelombang kemajuan peradaban modern ini, rasanya kita harus belajar kembali untuk pandai dalam memahami da mengerti orang lain yang sedang tertimpa musibah. Apapun musibah itu. Simpati dan empati pasti kita butuhkan.***
*) Dosen STIMI Banjarmasin