JADINYA, bila menerangkan, jangan terlalu cepat dan jangan terlalu lamban. Ini juga bukan berarti menganggap remeh kemampuan siswa. Seringkali yang terjadi, guru menerangkan dengan tempo sangat cepat, sesuai kecepatannya dalam memahami materi, kurang memperhatikan apakah siswanya dapat mengikutinya atau tidak. Guru menerangkan seenaknya saja. Tindakan seperti ini, kemungkinan besar hanya bisa diikuti oleh siswa yang pandai saja. Sedangkan sebagian besar siswa lain (saya perkirakan sekitar 90 persen), akan terseok-seok tak sanggup mengejar kecepatan guru dalam menerangkan.
Mungkin penjelasan ini sulit dipahami oleh mereka (siapa pun) yang (sangat) pandai matematika, yang belum pernah merasa kesulitan dalam belajar matematika. Bagi orang-orang semacam ini, menganggap pemahaman siswa sama dengan dirinya. Biasanya, bila berhadapan dengan siswa yang kurang cepat dalam belajar, akan menganggap siswanya ?bodoh?. Ungkapan mengumpat dan mencela siswa sulit terhindari.
Misalkan ada siswa SMA yang tak bisa menentukan nilai x yang memenuhi persamaan ?x+1 = 3″. Guru yang termasuk golongan ini, kemungkiann besar akan berkata ?Masa sih gitu aja engga bisa?? ?Ngerjain soal yang dasar begitu aja engga bisa, kenapa kamu bisa lulus SMP??, ?Cape deeeeeh?, dsb.
Sesungguhnya, kata-kata semacam itu tidak pantas keluar dari seseeorang guru. Guru semacam ini tak dapat memposisikan dirinya pada diri siswa yang diajarnya, pada siswa yang ingin belajar, pada siswa yang ingin mengerti dengan apa yang dipelajarinya. Ia ?membunuh? siswanya secara perlahan.
Kesal, kecewa, jengkel terhadap siswa yang engga ngerti-ngerti itu biasa, manusiawai. Nah, di sinilah diperlukan kesabaran, ketabahan, rasa kasih sayang dan empati kepada siswa. Ingat, mereka juga manusia yang perlu diperlakukan manusiawi, perlu dihargai. Bagaimanapun kemampuan mereka.
Karena itu saya mengajak pada bapak dan ibu guru atau siapa pun pengajar matematika untuk memposisikan diri pada posisi siswa. Bayangkan bila Anda tak mengerti sesuatu, padahal ingin sekali mendapat penjelasan yang sejelas-jelasnya tentang sesuatu itu, karena Anda ingin bisa. Bayangkan pula, bagaimana perasaan Anda, bila yang menjelaskannya sangat cepat, kurang memperhatikan Anda, tak mempedulikan Anda bisa mengerti atau tidak. Pastinya, sakit rasanya, pedih hati dibuatnya. Anda pasti sengsara, merasakan yang namanya penderitaan batin. Anda akan merasa bodoh, minder, takut, dan sebagainya. Nah, siswa juga sama yang butuh mengerti sesuatu (dalam hal ini Matematika).
Oh iya, banyak juga guru yang hanya memperhatikan siswa-siswanya yang pandai saja. Siswa yang pandai dijadikan tolak ukur apakah yang ia sampaikan itu dapat diikuti atau tidak. Guru semacam ini asyik menjelaskan, asyik menyampaikan materi. Untuk mengecek apakah siswanya mengerti atau tidak, ia hanya mengecek pada siswa yang pandai saja. Akibatnya, banyak siswa lain tak dapat mengikuti pembelajaran, siswa lain tak mengerti materi yang mereka pelajari.
Dengan memperhatikan hal ini, seharusnya kita, selaku guru introspeksi diri, apakah sudah benar ngajarnya atau belum? Sudah memperhatikan kondisi dan kemampuan siswa? Jangan-jangan, banyak siswa tidak mengerti gara-gara tidak memperhatikan mereka, kurang peka, masa bodoh, apakah mereka mengerti atau tidak, yang penting mengajar. Sebodo amat mereka mau mengerti atau tidak.
Ketiga: Sarana dan prasarana pembelajarannya bagaimana? Hal sedikit banyaknya berpengaruh terhadap tercapainya tujuan pembelajaran. Yang dimaksud sarana dan prasaran meliputi: kelayakan tempat belajar (ruang kelas, laboratorium, dsb), ketersediaan alat-alat belajar (papan tulis, buku teks, dsb), ketersediaannya media pembelajaran, dan seterusnya.
Sekali lagi saya tegaskan, tidak ada cara mengajar matematika terampuh. Karena lakukan saja cara mengajar yang selama ini, namun perhatikan beberapa hal yang sudah dituliskan di atas, silakan kalau perlu lengkapi dengan hal-hal yang luput dari perhatian saya.
Silakan memakai metode apa pun, misalnya ceramah (toh ini yang paling banyak dipakai dan digemari guru di Indonesia, bahkan mungkin juga di dunia?). Silakan juga metode-metode lama atau terbaru lainnya. Semua metode atau pun pendekatan pembelajaran, masing-masing punya keistimewaan. Metode atau pendekatan apa pun, bila dioptimalkan, insya Allah mencapai tujuan pembelajaran.
Anda setuju?***
*) Mahasiswa Universiteit Utrech Nederland,
Komunitas penulis EWA?MCo